Stereotipe Masyarakat Terhadap MUA Pria

·

·

, , , ,

Kalau ngomongin soal riasan atau makeup, pasti tidak jauh dari perbincangan kaum wanita. Seiring berkembangnya zaman di dunia per-makeup-an, makeup atau riasan mulai banyak di gandrungi oleh kaum pria. Namun tetap saja , stereotipe maskulinitas beracun masih tertanam dalam akar pikiran masyarakat hingga saat ini. Umumnya pria didikte untuk menjadi pemberani dan tangguh sedangkan wanita didikte untuk menjadi penurut dan lemah lembut. Hal itu lah yang menyebabkan stereotipe gender lahir dalam hal perilaku, penampilan, bahkan pemikiran. Salah satunya adalah dalam hal menggunakan riasan.

Riasan atau makeup umumnya dianggap berada pada wilayah khusus milik wanita saja. Bahkan saat ini masih ada persepsi bahwa pria tidak boleh menyentuh dunia riasan atau makeup. Jika hal itu terjadi maka pria tersebut dianggap melakukan kegiatan feminim. Padahal, persepsi ini tidak hanya menyakitkan dan seksis, tetapi juga merupakan toxic masculinity.

Apalagi kalau kita sudah masuk ke rana profesi. Profesi Makeup Artist atau MUA saat ini semakin bersinar. Tak heran kaum pria juga jago dalam hal merias wajah, bahkan hasil makeup-nya tak jarang lebih bagus. Umumnya pria yang bisa dandan sering dicap banci dan sejenisnya, pada kenyataannya seorang pria yang berprofesi sebagai MUA nggak harus banci atau berpakaian ala wanita. Namun seiring zaman yang kian berkembang menyebabkan stereotipe tersebut berlahan memudar dan masyarakatpun perlahan sadar bahwasannya profesi tidak melihat gender lagi.

Walaupun begitu, masih banyak masyarakat yang belum bisa untuk menggunakan jasa para MUA pria ini. Ada beberapa hal yang membatasi kaum pria dalam menjalani profesi sebagai seorang MUA. Salah satunya terletak pada customer wanita yang beragama muslim berhijab, beberapa customer wanita muslim berhijab tidak bisa menggunakan jasa para MUA pria karena memang bukan muhrimnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *